
Entah siapa yang mempunyai ide menamai trip kami (
3C - Captiva Chevy Club) menuju T
a
m
an
Nasional Ujung Kulon (TNUK) menjadi SabaKulon. Curiga saya penamaannya dimula
k
an dari kat
a Saba (jalan-jalan) menuju Kulon (Ujung Kulon). Ya ya...kalau dirangkai lengkap bernama : 3C's Family Touring SabaKulon 2012.
Sedangkan ide jelajah TNUK sendiri adalah karena tahun ini dinobatkan sebagai Tahun Badak Internasional yg mana khususnya Badak Jawa sungguh memprihatinkan kondisinya. Jumlah badak jantan/betina dan anak-anak tidak lebih dari 35 ekor. Belum lagi kami pengguna Captiva sudah lama mengklaim diri bahwa tunggangan kami bernama Badak yang karena sifatnya main seruduk, tidak mau berhenti dan terus berlari! Maka dari itu, tergerak dari hal-hal tadi, teman-teman di
komunitas terketuk hatinya dan merasa perlu mengadakan program CSR (
community social responsibility). Setelah memilah dan memilih apa yg sangat diperlukan dalam pelestarian Badak Jawa, program CSR 3C adalah mendirikan dan memperbaiki 8 titik RPU (
repeater untuk radio komunikasi) di wilayah Ujung Kulon. Kalau dilihat dari jumlah mungkin tidak seberapa tapi ternyata radio komunikasi antar petugas TNUK sangat krusial adanya. Masa satu Badak mati seluruh dunia mengetahuinya tapi bila ada satu petugas mati ditengah hutan karena malaria, dunia tidak ada yang tahu. Miris, kan? Hiks!
Alhamdulillah setelah sekian lama pembangunan dan perbaikan RPU, pada saatnya serah
terima dan uji coba semua alat radio komunikasi berfungsi dengan baik! Komunikasi berupa suara dapat diterima
loud and clear di Ciputih (hotel) dari Pulau Peucang dan Pulau Handeuleum. Mudah - mudahan hal kecil ini bisa berguna untuk para petugas TNUK ya. Aamiin....!
Ok, cukup bagian seriusnya,
here are the fun part. Hehe...
Saya tidak akan banyak bercerita tentang perjalanan menuju TNUK dengan Captiva, seperti biasamyalah, menggunakannya
still fun to drive,
compfy, dan tenaga yg dihasilkan dari varian baru lebih besar. Jadi, akan seperti biasa juga saya tidak (atau belum) pernah bermasalah
driving dengan waktu yang cukup lama dengan Captiva.

Kalau tidak salah hitung, total dari 40 kendaraan yang berangkat menuju TNUK adalah 142 orang. Program jalan - jalannya adalah trip menuju Pulau Peucang pada hari kedua. Begitu Pulau Peucang disebut sebagai salah satu destinasi acara, saya sudah line up nomor satu, Winda 4D! Tak pernah berpikir akan seperti apa nanti, akan ada kejadian apa atau bagaimana, yang pasti sudah dijanjikan kapal yg digunakan untuk menuju Pulau Peucang adalah
speed boat. Yippieeee....nama
speed boat setidaknya mengobati luka lama ketika saya dan teman-teman menyebrang lautan menuju Gunung Anak Krakatau yg tidak hanya menggunakan perahu kayu tapi kapalnya hampir karam...Oohh...
Sampai pada
harinya, datanglah 3 kapal kayu yang melempar sauh sekira 100 meter dari bibir pantai. Alasan dangkal dan tidak ada dermaga maka kapal tidak dapat merapat pantai. Ada sih dermaga tapi tidak ada pijakannya!
Oh My....Turunlah satu sekoci yang digunakan untuk mengangkut kami menuju 3 kapal tsb. Dari sini saya sudah mulai curiga,
there's got to be something wrong tapi saya tetap semangat karena
satu hal : pasir putih Pulau Peucang!
Kapal saya sudah cukup penumpang maka kapal mulai berjalan. Tidak ada keanehan apapun, kapal melaju cukup kencang menembus ombak yang cukup tinggi (30-70cm), lagi - lagi saya senang karena membandingkan dengan trip menuju Krakatau. Tapi, dua jam kemudian, bep bep beppp mesin kapal mati. Menit pertama masih tenang dan tertawa-tawa, menit berikutnya mulai ingin tahu ada apa, menit berikutnya lagi mulai gelisah. Masalahnya ada pada knalpot kapal. Knalpotnya copot bok! Se
mpat kami panggil melalui rakom kapal lainnya, ternyata eh ternyata dua kapal itu juga mogok!. Nasib...nasib...Hahahahahaha...
Selama satu jam kami terombang ambing ditengah lautan sementara ABK sibuk memp
erbaiki knalpot. Alhamdulillah, mesin kembali bisa dinyalakan dan berjalan kembali. Apa kabar dengan saya? Ditengah terombang ambing tak jelas saya berusaha keras untuk menahan mual, asal saya diatas kapal dan berhenti, saya akan payah
and BAMM! saya pun
jackpot! Ah tapi saya tak malu karena dari
60 orang yang terombang ambil ditengah lautan banyak juga yang bernasib sama (alasan cari teman) Hahahahaha....
3.5 jam sejak dimulai per
jalanan akhirnya kami disambut pasir putih dan kicauan burung di Pulau Peucang. Dari jauh pun ka
mi sudah melihat hamparan pantai berpasir putih tak berujung. Subhanallah, lagi saya berdecak
kagum dengan keindahan alam Indonesia.
Kapal bersandar di dermaga, tak di
nyana, Pak Mentri Andi Malaranggeng sedang berlibur, ah senangnya...kami main air, berfoto dan berbagi cerita dangan beliau. Satu detik saya bandingkan fasilitas Pak Mentri yang ka
palnya bermesin empat sementara kami rakyat biasa berkapal dengan mesin hampir copot ditengah laut. Kembali saya terkenang ketika saya bermain - main menuju Pulau Samalona yang ditempuh dengan
speed boat (benar-benar
speed boat) hanya 15 menit saja dari Kota Makassar. Hahahahaha....kasihan kami ya?!

Setelah sampai di Pulau Peucang segala permasalahan terlupakan. Saya langsung nyebur ke laut, ngerjain yang mau di foto, main lempar pasir dengan anak - anak, kejar - kejaran dengan babi hutan dan kucing - kucingan dengan monyet nakal. Alhamdulillah (lagi) saya diperkenankan Allah SWT menikmati alam indahNya dan diberikan waktu untuk bersenang - senang bersama teman, sahabat, dan keluarga.
Tak terasa hari menjelang sore, waktunya kami kembali ke Pulau Jawa, masalah baru muncul, kapal nomor tiga mesinnya tidak hidup sama sekali. Para nahkoda berembuk dan kapal akan saling menarik. Kapal 2 tarik kapal 1 (saya) dan kapal 1 tarik kapal 3 (yg tak bermesin). Sungguh kami sangat kompak, tak hanya konvoi di darat dan udara, di laut pun kami bisa konvoi! Hahahahahaha....

Setelah hampir lima jam kami di lautan, sampai juga kami di tanah Jawa, berbagi cerita tentang kekonyolan yang baru saja terjadi dan menertawakan kebodohan diri sendiri. Satu hal yang patut kami syukuri, cuaca sangat cerah, tidak hujan dan ombak cukup bersahabat karena
beberapa hari sebelumnya, petugas TNUK memantau cuaca kurang baik untuk melaut. Dan satu lagi, pada perjalan pulang kami diberikan
scenery sunset yang luar biasa indah, saya pun menyebutnya
perfect sunset! Pun setelah matahari tenggelam, muncul bulan purnama, sinarnya menghiasi lautan, terang dan indah sekali. Subhanallah....
Alhamdulillah (lagi) tidak terjadi hal serius selama perjalanan di laut maupun darat. Sesuai
motto kami dalam melakukan perjalanan selain bersenang - senang adalah
zero accident. Dan tentu saja kami, khususnya saya tidak kapok untuk kembali berpetualang menjelajahi alam Indonesia yang luar biasa indah.
Well, demikian cerita (yang menurut saya lucu)nya, sudah cukup panjang, mudah - mudahan tidak bosan membacanya.
What an experience of a lifetime dan sampai jumpa di trip berikutnyaaaaa......